Seekor kucing kurus kerontang, berdebu, dekil, bermata sayu dengan pita suara yang hampir tidak berfungsi. Itu lah ‘heal’ di hari pertama aku melihatnya, menemukannya di depan pintu rumah tergeletak kelaparan menunggu pertolongan dan keajaiban.
Heal kehilangan kepekaan indera penciuman juga kemampuan untuk mencerna makanan akibat kelaparan yang berkepanjangan. Beberapa minggu pertama, dia cuma bisa makan roti dan air. Selanjutnya dia mulai mau makan biskuit kucing dan sekarang dia sudah mau mengunyah ayam yang di suwir atau pepes ikan lembut. Walaupun begitu, makanan favoritnya tetaplah roti. dan terkadang apabila terlalu sulit mengunyah makanan yang tersedia, ia hanya akan menyerap sari-sarinya dan memuntahkan sisanya. Sayangnya indera penciumannya sampai sekarang masih lemah sehingga ia hanya bisa membaui makanan apabila didekatkan ke hidungnya.
Heal sangat spesial. Ia akan masuk hanya apabila di persilahkan dan di suruh masuk. Apabila kita memanggilnya, dia akan datang. Begitu pun bila di suruh duduk, diam, bergeser atau pergi. Hanya dengan suara dan kata-kata tanpa sentuhan apalagi sapu dia akan melakukannya. Akan tetapi yang paling aneh dari heal adalah dia seperti mereplikasi ayah. Bukan dalam hal yang macam-macam. Singkatnya ayah sedang sakit. dan begitu pula Heal. Heal sering batuk, bersin, terlihat mual, lemah, mudah kecapean dan memilih-milih makanan. Tepat seperti kondisi ayah. kadang heal akan duduk di samping kaki ranjang ayah atau di depan pintu kamar hanya termenung seolah sedang menemaninya.
Sekarang kesehatan heal membaik sama seperti kesehatan ayah. Heal sudah mulai bisa bersuara, tulang pinggulnya pun sudah tidak terlihat lagi, ia mulai mau berlari dengan mata berbinar antusias. Batuknya mulai berkurang dan ia terlihat lebih sehat berisi.
Satu hal lagi yang membuat heal spesial adalah. Dia satu-satunya kucing yang mau menerima kehadiranku tanpa protes. Kucing yang aku dekati biasanya akan berlari atau mendesis. Tapi heal tidak. Dia tidak pernah keberatan dengan perhatianku yang kebanyakan tercurah pada hewan berkaki empat yang menggonggong. Heal menghargai itu. Walaupun aku belom mandi dan mencuci tangan dengan tanah, ia akan tetap mendekat ketika aku panggil. Tidak menolak ketika dipeluk atau di elus. hahaha siapa sangka hewan memiliki toleransi.
Heal sedang menatapku saat ini. Dan sebelum dia duduk (lagi) di atas keyboard aku berterima kasih pada tuhan karena telah mengirimnya dan membiarkan kami merawatnya hingga kini dan nanti. Aku sangat menyayanginya. Aku harap dia lebih cepat sembuh lagi, begitu pun dengan ayah. Amin